Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat)

Gambar Produk 1
Rp 92.000
Judul : Tahafut al-Falasifah
Pengarang : Imam Al-Gazali
Penerbit : Penerbit Forum
Bahasa : Indonesia
Tahun Terbit : 2015
*Harga di marketplace mungkin berbeda dengan harga yang tertera disini.
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H / 1058–1111 M), yang dikenal sebagai Hujjatul Islam, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam. Ia adalah ahli fikih Syafi’i, teolog Asy’ari, sufi, dan filsuf yang mendalami berbagai disiplin ilmu. Buku Tahāfut al-Falāsifah (Kerancuan Para Filsuf), yang ditulis sekitar tahun 488 H / 1095 M saat ia menjabat sebagai guru besar di Madrasah Nizamiyah Baghdad atas undangan Sultan Nizam al-Mulk, merupakan karya paling kontroversial dan berpengaruh dalam kritik filsafat. Buku ini menjadi tonggak kebangkitan teologi Asy’ariyah dan penyebab mundurnya minat terhadap filsafat Yunani (falsafah) di dunia Islam Timur.

Buku ini adalah bagian kedua dari seri teologis empat jilid yang disusun Al-Ghazali selama masa jabatannya di Baghdad untuk melawan propaganda Ismailiyah Fatimiyah. Jilid pertama adalah Maqāṣid al-Falāsifah (Tujuan Para Filsuf), yang merupakan ringkasan objektif dan netral tentang doktrin filsafat (terutama Al-Farabi dan Ibnu Sina) sebagai pengantar. Jilid ketiga Mīyār al-‘Ilm fī Fan al-Manṭiq (Kriteria Ilmu dalam Logika) sebagai lampiran, dan jilid keempat al-Iqtiṣād fī al-I‘tiqād yang membangun teologi Asy’ariyah sebagai pengganti metafisika filsafat yang dikritik. Al-Ghazali tidak menolak seluruh filsafat; ia menerima logika, matematika, astronomi, dan fisika murni sebagai ilmu demonstratif, tetapi menyerang metafisika karena dianggap gagal memenuhi standar bukti rasional mereka sendiri dan bertentangan dengan syariat.

Tujuan dan Metodologi Buku
Dalam mukadimah (prawacana), Al-Ghazali menjelaskan latar belakang penulisan. Ia melihat sekelompok intelektual muda yang sombong karena “kecerdasan” mereka, menolak kewajiban salat, puasa, dan syariat, serta mengejek agama sebagai takhayul. Mereka taklid buta pada nama-nama besar Yunani seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Hippocrates, dan menganggap filsafat sebagai jalan kebenaran mutlak. Al-Ghazali menyebut ini lebih buruk daripada taklid orang awam kepada agama, karena mereka mengganti taklid yang benar dengan yang salah. Ia fokus pada Aristoteles sebagai “guru pertama” yang disistematisasi oleh Al-Farabi dan Ibnu Sina (sang filsuf utama yang dikritik), karena penerjemah Arab sering mengubah konsep sehingga menimbulkan kekacauan.

Metodologi Al-Ghazali adalah radd (sanggahan) dalam bentuk dialog imajiner: ia paparkan pendapat filsuf secara adil, lalu hancurkan dengan argumen logis mereka sendiri, menunjukkan inkonsistensi (tahāfut = keruntuhan/kerancuan). Ia tidak membangun sistem baru, melainkan membuktikan bahwa metafisika filsuf tidak mencapai tingkat burhān (demonstrasi) seperti yang mereka klaim dalam logika. Ia gabungkan elemen dari berbagai mazhab (Muktazilah, Karramiyah, dll.) untuk melawan filsuf. Buku ini bersifat destruktif-negatif, tapi membuka jalan bagi teologi positif Asy’ariyah yang mengutamakan wahyu di atas akal murni dalam urusan gaib.

Buku terdiri dari mukadimah (empat prawacana), 20 masalah utama (16 metafisika, 4 fisika/teologi), dan khatimah singkat. Dari 20 masalah, 17 dianggap bid’ah/sesat, dan 3 dianggap kekafiran (kufr) karena bertentangan langsung dengan nash Al-Qur’an dan Sunnah yang qat’i:
  1. Kekekalan alam tanpa awal (azaliyyah/qidam alam).
  2. Tuhan hanya mengetahui hal-hal umum (mujmal/universal), bukan partikular.
  3. Hanya ruh yang dibangkitkan, bukan jasad (penolakan kebangkitan jasmani).
Ringkasan 20 Masalah Utama
Masalah 1: Sanggahan atas Kekekalan Alam (Eternitas Masa Lalu)
Filsuf berargumen alam qadim (kekal tanpa awal) bersama Allah, karena jika ada awal, maka kehendak Allah harus berubah (dari tidak mencipta menjadi mencipta), padahal yang kekal tak berubah. Waktu dan gerak juga qadim, mustahil ada “sebelum” ciptaan. Al-Ghazali balas: Ini kontradiksi. Sebab kekal tak bisa menghasilkan akibat temporal tanpa “pemberi keutamaan” (murajjih) baru. Analogi: Jika seseorang ingin minum air tapi menunda tanpa alasan, maka ia tak berkehendak sungguh-sungguh. Allah mencipta dengan kehendak bebas, bukan terpaksa emanasi. Alam adalah mumkin al-wujud (kontingen), butuh pencipta temporal. “Sebelum” ciptaan adalah imajinasi, bukan waktu nyata. Argumen ini menjadi dasar penciptaan ex nihilo dalam waktu.

Masalah 2: Keabadian Alam, Waktu, dan Gerak di Masa Depan
Filsuf klaim alam abadi karena sebab qadim tak berubah, lenyapnya alam butuh sebab baru yang mustahil. Al-Ghazali: Allah berkuasa memusnahkan alam kapan saja dengan kehendak-Nya. Waktu relatif, bukan esensi abadi. Syariat menyatakan Hari Kiamat, sehingga akal tak boleh menolaknya.

Masalah 3: Ketidakjujuran Filsuf tentang Tuhan sebagai Pencipta
Filsuf bilang Tuhan “pencipta” secara metaforis (seperti cahaya dari lampu tanpa kehendak), bukan fa’il ikhtiari. Al-Ghazali: Ini bohong, karena perbuatan tanpa kehendak bukan ciptaan hakiki. Emanasi Neoplatonis (dari Akal Pertama ke akal kedua, dst.) tak bisa jelaskan pluralitas dari kesatuan tanpa kontradiksi.

Masalah 4–5: Ketidakmampuan Membuktikan Eksistensi dan Keesaan Tuhan
Filsuf gagal buktikan Wajib al-Wujud secara rasional tanpa lingkaran. Argumen dualitas Tuhan (sama atau berbeda) lemah. Al-Ghazali: Bukti eksistensi Tuhan lebih kuat dari wahyu dan mukjizat, bukan silogisme filsafat yang rapuh.

Masalah 6–9: Penolakan Sifat Tuhan, Kesederhanaan, dan Bukan Jasad
Filsuf tolak sifat (ilmu, qudrah, iradah) karena menambah pluralitas. Tuhan sederhana tanpa mahiyyah (esensi). Al-Ghazali: Penolakan sifat bertentangan dengan Al-Qur’an (“Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa”). Tuhan bukan jasad, tapi filsuf tak bisa buktikan tanpa asumsi.

Masalah 10–13: Pengetahuan Tuhan
Filsuf klaim Tuhan tahu universal saja, bukan partikular temporal (“yang telah, sedang, akan”). Tuhan tak tahu diri-Nya sendiri secara sempurna. Al-Ghazali: Ini kekafiran! Tuhan Maha Tahu segala sesuatu, termasuk detail remah-remah daun dan gerak atom. Pengetahuan-Nya tak berubah karena Ia di luar waktu.

Masalah 14–16: Langit sebagai Makhluk Hidup
Filsuf anggap langit hewan berjiwa yang bergerak sukarela mengelilingi Bumi untuk taat Tuhan, dan jiwanya tahu partikular. Al-Ghazali: Tak ada bukti rasional; ini mitos Aristoteles yang tak sesuai observasi dan syariat.

Masalah 17: Kerancuan Teori Kausalitas (Puncak Kritik)
Ini bab paling terkenal. Filsuf (Aristoteles-Avicenna) bilang hubungan sebab-akibat necessary (api pasti bakar kapas, air basahi tanah). Al-Ghazali tolak dengan occasionalism Asy’ari: Tak ada necessary connection di alam. Api dan kapas hanyalah “kebiasaan” (‘ādah) Allah yang diciptakan bersamaan. Allah bisa ciptakan api tanpa bakar (mukjizat Ibrahim AS), atau kapas tanpa terbakar. Segala kejadian langsung diciptakan Allah saat itu juga; sebab sekunder hanyah perantara, bukan mandiri. Ini mempertahankan kemungkinan mukjizat dan kekuasaan mutlak Allah. Al-Ghazali tak tolak hukum alam sebagai pola, tapi tolak determinisme filosofis.

Masalah 18–19: Jiwa Manusia
Filsuf anggap jiwa substansi mandiri, abadi, tak rusak. Al-Ghazali: Jiwa diciptakan, bisa musnah jika Allah kehendaki, tapi syariat janjikan kekekalan setelah kebangkitan.

Masalah 20: Penolakan Kebangkitan Jasad (Kekafiran Ketiga)
Filsuf tolak kebangkitan jasmani, surga-neraka jasmani hanya metafor ruhani. Al-Ghazali: Langsung kafir! Al-Qur’an jelas bicara jasad dibangkitkan, siksa neraka fisik (minum nanah, kulit diganti), kenikmatan surga fisik (buah, bidadari). Penolakan ini menghancurkan motivasi amal saleh.

Khatimah
Al-Ghazali simpulkan bahwa filsuf gagal di metafisika karena campur aduk antara imajinasi, taklid, dan logika yang tak ketat. Mereka setuju pada Allah dan Hari Akhir, tapi rincian mereka sesat. Akal punya batas; wahyu lebih tinggi dalam urusan gaib.

Pengaruh dan Warisan
Buku ini sukses besar: memperkuat Asy’ariyah sebagai teologi Sunni dominan, menurunkan status filsafat sebagai “ratu ilmu” di Timur Islam, dan mendorong sintesis tasawuf-fikih-teologi di Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Di Barat Islam, Ibn Rushd (Averroes) balas dengan Tahāfut al-Tahāfut (Kerancuan atas Kerancuan), membela filsafat, tapi pengaruhnya terbatas. Di Eropa Latin, buku ini dikenal sebagai Destructio Philosophorum dan memengaruhi pemikiran skolastik. Hingga kini, Tahāfut dibaca sebagai contoh klasik kritik rasional terhadap rasionalisme berlebihan, relevan dalam debat sains-agama modern (quantum indeterminacy mirip occasionalism).

Secara keseluruhan, Kerancuan Filsafat bukan anti-akal, melainkan pembatasan akal: akal hebat untuk dunia fisik, tapi untuk metafisika dan gaib, harus tunduk pada wahyu. Buku ini sekitar 300–400 halaman dalam terjemahan, penuh argumen tajam, analogi brilian, dan semangat pembelaan akidah. Bagi pembaca modern, ia mengajarkan kerendahan hati intelektual: filsafat boleh, tapi jangan jadi tuhan pengganti agama.

CHECKOUT VIA CHAT

BELI DI MARKETPLACE

Diskusi