Sejarah Dunia yang Disembunyikan
Rp 165.000
Judul : Sejarah Dunia yang Disembunyikan
Pengarang : Jonathan Black
Penerbit : Alvabet
Bahasa : Indonesia
Tahun Terbit : 2015
*Harga di marketplace mungkin berbeda dengan harga yang tertera disini.
Pengarang : Jonathan Black
Penerbit : Alvabet
Bahasa : Indonesia
Tahun Terbit : 2015
*Harga di marketplace mungkin berbeda dengan harga yang tertera disini.
Bayangkan jika sejarah yang Anda ketahui selama ini hanyalah permukaan dari sebuah gunung es yang jauh lebih besar dan misterius. Buku "The Secret History of the World" (diterjemahkan sebagai "Sejarah Dunia yang Disembunyikan") karya Jonathan Black—nama samaran dari Mark Booth, seorang penerbit dan penulis Inggris—adalah sebuah karya yang ambisius dan memikat, yang mengajak pembaca menyelami versi alternatif dari perjalanan umat manusia. Diterbitkan pertama kali pada 2007, buku ini bukan sekadar kronik peristiwa politik atau ekonomi seperti buku sejarah biasa. Sebaliknya, ia menyajikan narasi yang didasarkan pada keyakinan dan tulisan-tulisan masyarakat rahasia seperti Freemason, Rosicrucian, dan Knights Templar. Black mengklaim bahwa ia dibantu oleh seorang inisiat (anggota tingkat tinggi) dari lebih dari satu masyarakat rahasia, yang membantunya mengakses pengetahuan tersembunyi ini.
Bagi pembaca umum, buku ini seperti sebuah petualangan intelektual yang menggabungkan elemen mistis, filsafat, dan sejarah. Black menantang pandangan materialis modern yang melihat segalanya sebagai hasil dari evolusi acak atau kekuatan fisik semata. Ia mengusulkan konsep utama bahwa "pikiran mendahului materi" (mind precedes matter)—artinya, alam semesta dan segala isinya lahir dari pikiran kosmik atau kesadaran ilahi, bukan sebaliknya. Manusia, menurutnya, adalah bagian dari proses evolusi spiritual yang disengaja, di mana kita sedang menjalani "inisiasi kolektif" untuk mengembangkan kesadaran dan kehendak bebas. Buku ini mengeksplorasi bagaimana teknik rahasia seperti meditasi, ritual, dan simbolisme dapat membawa seseorang ke keadaan kesadaran yang berubah (altered state of consciousness), di mana rahasia dunia terungkap. Tokoh-tokoh besar seperti Leonardo da Vinci, Isaac Newton, dan George Washington disebut sebagai orang yang telah mencapai keadaan ini, sehingga mereka bisa mengakses kecerdasan supranatural.
Dalam rangkuman ini, saya akan membahas isi buku secara tematik, mengikuti alur narasi Black yang dimulai dari awal mula alam semesta hingga era modern. Saya akan menggunakan bahasa yang deskriptif untuk membangun gambaran hidup, sekaligus informatif dengan menjelaskan konsep-konsep kunci agar mudah dipahami oleh pembaca awam. Buku ini tebal sekitar 400-600 halaman tergantung edisi, dan meskipun kontroversial—beberapa kritikus menyebutnya sebagai campuran esoterik yang arbitrer—ia menawarkan perspektif segar yang bisa membuat Anda mempertanyakan realitas sehari-hari.
Awal Mula: Cermin Ilahi dan Penciptaan Alam Semesta
Black memulai narasinya dari "permulaan," di mana Tuhan memandang cerminan-Nya sendiri dalam sebuah "cermin alam semesta." Ini bukan cerita Alkitab biasa, tapi interpretasi esoterik yang terinspirasi dari tradisi Hermetisisme dan Kabbalah. Bayangkan Tuhan sebagai pikiran murni yang menciptakan dunia melalui refleksi diri-Nya. Alam semesta lahir dari pikiran ini, dan segala bentuk materi hanyalah manifestasi dari ide-ide ilahi. Konsep ini mirip dengan teori Plato tentang "bentuk ideal" (Theory of Forms), di mana dunia fisik hanyalah bayangan dari realitas sempurna yang ada di alam pikiran.
Dalam bab awal ini, Black menjelaskan evolusi spiritual umat manusia. Manusia awalnya adalah makhluk roh murni, hidup dalam keadaan kesadaran kolektif seperti mimpi bersama. Namun, melalui proses "penurunan" (devolution), kita menjadi semakin material, terperangkap dalam tubuh fisik. Ini kontras dengan teori evolusi Darwin yang melihat manusia naik dari hewan primitif; Black justru mengusulkan bahwa kita "jatuh" dari keadaan spiritual tinggi ke rendah, dan tujuan hidup adalah kembali ke asal melalui pencerahan. Ia merujuk mitos global seperti Banjir Besar (seperti kisah Nuh atau Atlantis) sebagai simbol dari "jatuhnya" ini, di mana umat manusia kehilangan hubungan langsung dengan dewa-dewa.
Untuk pembaca umum, bayangkan ini seperti film fiksi ilmiah di mana manusia dulu bisa berkomunikasi telepati dengan alam, tapi sekarang terbatas oleh indera fisik. Black menghubungkan ini dengan masyarakat rahasia kuno, seperti sekolah misteri Eleusinian di Yunani, yang menggunakan ritual untuk mengembalikan kesadaran itu. Ia juga membahas dualisme cahaya versus kegelapan, terinspirasi dari Zoroaster Persia, yang memengaruhi agama-agama Abrahamik.
Taman Eden dan Masuknya Kekuatan Gelap
Melanjutkan ke "Taman Eden," Black menguraikan kode Genesis dalam Alkitab sebagai alegori esoterik. Adam dan Hawa bukan manusia pertama secara harfiah, tapi representasi dari transisi manusia dari keadaan spiritual ke material. Buah Pengetahuan yang dimakan mereka melambangkan "pembukaan mata" ke dunia dualitas—baik dan jahat, cahaya dan kegelapan. Black memperkenalkan "Tuhan Gelap" atau Lucifer sebagai kekuatan yang diperlukan untuk evolusi, bukan sekadar musuh. Lucifer membawa pengetahuan, tapi juga penderitaan, yang menjadi ujian untuk mengembangkan kehendak bebas manusia.
Di sini, Black menjelajahi mitos "Orang Bunga" atau makhluk awal yang hidup harmonis dengan alam, seperti dalam legenda Atlantis atau Lemuria. Ia menggambarkan bagaimana peradaban kuno seperti Mesir dan Sumeria menyimpan pengetahuan ini melalui piramida dan ziggurat, yang dirancang sebagai mesin spiritual untuk menyelaraskan manusia dengan kosmos. Piramida Giza, misalnya, bukan hanya makam, tapi alat untuk memandu jiwa ke alam baka, selaras dengan bintang Orion.
Konsep informatif di bab ini adalah "hierarki spiritual": Alam semesta terdiri dari tingkatan makhluk, dari malaikat hingga manusia, dan masyarakat rahasia bertindak sebagai penjaga untuk memandu umat manusia naik tingkat. Black merujuk Hermes Trismegistus, sosok legendaris yang menggabungkan dewa Mesir Thoth dan Yunani Hermes, sebagai sumber Hermetisisme—filsafat yang mencakup alkimia (transmutasi logam menjadi emas sebagai metafor transformasi jiwa) dan astrologi.
Berjalan di Hutan Kuno: Memahami Pikiran Leluhur
Black kemudian mengajak pembaca "berjalan singkat di hutan kuno," di mana kita membayangkan diri masuk ke pikiran orang-orang purba. Di era prasejarah, manusia hidup dalam kesadaran "bi-kameral" (bicameral mind), di mana suara-suara internal dirasakan sebagai perintah dewa. Ini terinspirasi dari teori Julian Jaynes, tapi Black menambahkan lapisan esoterik: Suara itu adalah komunikasi langsung dengan roh.
Ia membahas bagaimana mitos dan seni gua seperti di Lascaux Prancis adalah enkripsi pengetahuan spiritual. Transisi ke kesadaran individu terjadi melalui inisiasi rahasia, seperti dalam misteri Dionysian Yunani, di mana peserta mengalami "kematian dan kelahiran kembali" simbolis. Black menghubungkan ini dengan filsuf seperti Pythagoras, yang belajar di Mesir dan membawa kembali konsep reinkarnasi dan harmoni kosmik (musik sphere).
Untuk pembaca umum, ini seperti menjelaskan mengapa orang kuno membangun monumen raksasa seperti Stonehenge: Bukan sekadar kalender, tapi portal untuk mengakses dimensi lain. Black menekankan bahwa pengetahuan ini disembunyikan karena berbahaya bagi yang belum siap—bisa menyebabkan kegilaan jika tidak diinisiasi dengan benar.
Peran Masyarakat Rahasia dalam Sejarah
Inti buku adalah peran masyarakat rahasia dalam membentuk dunia. Black melacak evolusi mereka dari sekolah misteri kuno hingga era modern. Knights Templar, misalnya, menemukan harta spiritual di Yerusalem selama Perang Salib, yang memengaruhi pencarian Grail Suci—simbol pengetahuan ilahi. Rosicrucian muncul di abad ke-17 melalui manifesto anonim, mempromosikan reformasi spiritual yang memengaruhi Pencerahan Eropa.
Freemason, berevolusi dari serikat tukang batu abad pertengahan, menggunakan simbol seperti mata segala-lihat (All-Seeing Eye) untuk menyampaikan pesan esoterik. Black mengklaim bahwa pendiri Amerika seperti Washington dan Franklin adalah Freemason, yang menyematkan prinsip rahasia dalam Deklarasi Kemerdekaan dan desain Washington D.C. Illuminati, didirikan oleh Adam Weishaupt pada 1776, bertujuan sekularisme tapi sering disalahpahami sebagai konspirator.
Black menjelaskan bahwa masyarakat ini bukan jahat, tapi pelindung hikmah kuno melawan materialisme. Mereka memengaruhi revolusi seperti Prancis dan Amerika, serta kemajuan sains—Newton's gravitasi terinspirasi alkimia, dan Da Vinci's Mona Lisa penuh kode rahasia. Konsep kunci: Sejarah adalah "inisiasi kolektif," di mana perang dan bencana adalah ujian untuk evolusi kesadaran.
Mistisisme, Seni, dan Sains: Jembatan ke Modernitas
Black menghubungkan mistisisme dengan kemajuan manusia. Di Renaissance, seniman seperti Michelangelo menyematkan makna Kabbalah dalam Sistine Chapel. Revolusi Ilmiah bukan anti-spiritual; sebaliknya, Copernicus dan Galileo terinspirasi Hermetisisme. Black membahas Gnostisisme, yang menekankan pengetahuan pribadi (gnosis) untuk pembebasan jiwa dari dunia materi.
Di era modern, gerakan seperti Theosophy Helena Blavatsky menggabung Timur-Barat, memengaruhi New Age. Jung's unconscious collective mirip dengan kesadaran kosmik Black. Ia juga menyentuh akhir zaman: Kedatangan Antichrist atau pencerahan massal? Black spekulatif, tapi informatif dalam menjelaskan bagaimana simbol seperti salib atau ular (kundalini) adalah bahasa universal misteri.
Kesimpulan: Pandangan Baru tentang Dunia
Buku ini berakhir tiba-tiba, tanpa kesimpulan tegas, tapi meninggalkan pembaca dengan pemahaman holistik: Sejarah adalah cerita evolusi spiritual, di mana rahasia tersembunyi di balik peristiwa sehari-hari. Bagi pembaca umum, ini mengajak refleksi: Apakah dunia hanya materi, atau ada lapisan lebih dalam? Meskipun dikritik karena kurang sumber (Black mengandalkan tradisi lisan), buku ini kaya referensi dari Vedas hingga Bible, membuatnya engaging seperti novel thriller spiritual.
Bagi pembaca umum, buku ini seperti sebuah petualangan intelektual yang menggabungkan elemen mistis, filsafat, dan sejarah. Black menantang pandangan materialis modern yang melihat segalanya sebagai hasil dari evolusi acak atau kekuatan fisik semata. Ia mengusulkan konsep utama bahwa "pikiran mendahului materi" (mind precedes matter)—artinya, alam semesta dan segala isinya lahir dari pikiran kosmik atau kesadaran ilahi, bukan sebaliknya. Manusia, menurutnya, adalah bagian dari proses evolusi spiritual yang disengaja, di mana kita sedang menjalani "inisiasi kolektif" untuk mengembangkan kesadaran dan kehendak bebas. Buku ini mengeksplorasi bagaimana teknik rahasia seperti meditasi, ritual, dan simbolisme dapat membawa seseorang ke keadaan kesadaran yang berubah (altered state of consciousness), di mana rahasia dunia terungkap. Tokoh-tokoh besar seperti Leonardo da Vinci, Isaac Newton, dan George Washington disebut sebagai orang yang telah mencapai keadaan ini, sehingga mereka bisa mengakses kecerdasan supranatural.
Dalam rangkuman ini, saya akan membahas isi buku secara tematik, mengikuti alur narasi Black yang dimulai dari awal mula alam semesta hingga era modern. Saya akan menggunakan bahasa yang deskriptif untuk membangun gambaran hidup, sekaligus informatif dengan menjelaskan konsep-konsep kunci agar mudah dipahami oleh pembaca awam. Buku ini tebal sekitar 400-600 halaman tergantung edisi, dan meskipun kontroversial—beberapa kritikus menyebutnya sebagai campuran esoterik yang arbitrer—ia menawarkan perspektif segar yang bisa membuat Anda mempertanyakan realitas sehari-hari.
Awal Mula: Cermin Ilahi dan Penciptaan Alam Semesta
Black memulai narasinya dari "permulaan," di mana Tuhan memandang cerminan-Nya sendiri dalam sebuah "cermin alam semesta." Ini bukan cerita Alkitab biasa, tapi interpretasi esoterik yang terinspirasi dari tradisi Hermetisisme dan Kabbalah. Bayangkan Tuhan sebagai pikiran murni yang menciptakan dunia melalui refleksi diri-Nya. Alam semesta lahir dari pikiran ini, dan segala bentuk materi hanyalah manifestasi dari ide-ide ilahi. Konsep ini mirip dengan teori Plato tentang "bentuk ideal" (Theory of Forms), di mana dunia fisik hanyalah bayangan dari realitas sempurna yang ada di alam pikiran.
Dalam bab awal ini, Black menjelaskan evolusi spiritual umat manusia. Manusia awalnya adalah makhluk roh murni, hidup dalam keadaan kesadaran kolektif seperti mimpi bersama. Namun, melalui proses "penurunan" (devolution), kita menjadi semakin material, terperangkap dalam tubuh fisik. Ini kontras dengan teori evolusi Darwin yang melihat manusia naik dari hewan primitif; Black justru mengusulkan bahwa kita "jatuh" dari keadaan spiritual tinggi ke rendah, dan tujuan hidup adalah kembali ke asal melalui pencerahan. Ia merujuk mitos global seperti Banjir Besar (seperti kisah Nuh atau Atlantis) sebagai simbol dari "jatuhnya" ini, di mana umat manusia kehilangan hubungan langsung dengan dewa-dewa.
Untuk pembaca umum, bayangkan ini seperti film fiksi ilmiah di mana manusia dulu bisa berkomunikasi telepati dengan alam, tapi sekarang terbatas oleh indera fisik. Black menghubungkan ini dengan masyarakat rahasia kuno, seperti sekolah misteri Eleusinian di Yunani, yang menggunakan ritual untuk mengembalikan kesadaran itu. Ia juga membahas dualisme cahaya versus kegelapan, terinspirasi dari Zoroaster Persia, yang memengaruhi agama-agama Abrahamik.
Taman Eden dan Masuknya Kekuatan Gelap
Melanjutkan ke "Taman Eden," Black menguraikan kode Genesis dalam Alkitab sebagai alegori esoterik. Adam dan Hawa bukan manusia pertama secara harfiah, tapi representasi dari transisi manusia dari keadaan spiritual ke material. Buah Pengetahuan yang dimakan mereka melambangkan "pembukaan mata" ke dunia dualitas—baik dan jahat, cahaya dan kegelapan. Black memperkenalkan "Tuhan Gelap" atau Lucifer sebagai kekuatan yang diperlukan untuk evolusi, bukan sekadar musuh. Lucifer membawa pengetahuan, tapi juga penderitaan, yang menjadi ujian untuk mengembangkan kehendak bebas manusia.
Di sini, Black menjelajahi mitos "Orang Bunga" atau makhluk awal yang hidup harmonis dengan alam, seperti dalam legenda Atlantis atau Lemuria. Ia menggambarkan bagaimana peradaban kuno seperti Mesir dan Sumeria menyimpan pengetahuan ini melalui piramida dan ziggurat, yang dirancang sebagai mesin spiritual untuk menyelaraskan manusia dengan kosmos. Piramida Giza, misalnya, bukan hanya makam, tapi alat untuk memandu jiwa ke alam baka, selaras dengan bintang Orion.
Konsep informatif di bab ini adalah "hierarki spiritual": Alam semesta terdiri dari tingkatan makhluk, dari malaikat hingga manusia, dan masyarakat rahasia bertindak sebagai penjaga untuk memandu umat manusia naik tingkat. Black merujuk Hermes Trismegistus, sosok legendaris yang menggabungkan dewa Mesir Thoth dan Yunani Hermes, sebagai sumber Hermetisisme—filsafat yang mencakup alkimia (transmutasi logam menjadi emas sebagai metafor transformasi jiwa) dan astrologi.
Berjalan di Hutan Kuno: Memahami Pikiran Leluhur
Black kemudian mengajak pembaca "berjalan singkat di hutan kuno," di mana kita membayangkan diri masuk ke pikiran orang-orang purba. Di era prasejarah, manusia hidup dalam kesadaran "bi-kameral" (bicameral mind), di mana suara-suara internal dirasakan sebagai perintah dewa. Ini terinspirasi dari teori Julian Jaynes, tapi Black menambahkan lapisan esoterik: Suara itu adalah komunikasi langsung dengan roh.
Ia membahas bagaimana mitos dan seni gua seperti di Lascaux Prancis adalah enkripsi pengetahuan spiritual. Transisi ke kesadaran individu terjadi melalui inisiasi rahasia, seperti dalam misteri Dionysian Yunani, di mana peserta mengalami "kematian dan kelahiran kembali" simbolis. Black menghubungkan ini dengan filsuf seperti Pythagoras, yang belajar di Mesir dan membawa kembali konsep reinkarnasi dan harmoni kosmik (musik sphere).
Untuk pembaca umum, ini seperti menjelaskan mengapa orang kuno membangun monumen raksasa seperti Stonehenge: Bukan sekadar kalender, tapi portal untuk mengakses dimensi lain. Black menekankan bahwa pengetahuan ini disembunyikan karena berbahaya bagi yang belum siap—bisa menyebabkan kegilaan jika tidak diinisiasi dengan benar.
Peran Masyarakat Rahasia dalam Sejarah
Inti buku adalah peran masyarakat rahasia dalam membentuk dunia. Black melacak evolusi mereka dari sekolah misteri kuno hingga era modern. Knights Templar, misalnya, menemukan harta spiritual di Yerusalem selama Perang Salib, yang memengaruhi pencarian Grail Suci—simbol pengetahuan ilahi. Rosicrucian muncul di abad ke-17 melalui manifesto anonim, mempromosikan reformasi spiritual yang memengaruhi Pencerahan Eropa.
Freemason, berevolusi dari serikat tukang batu abad pertengahan, menggunakan simbol seperti mata segala-lihat (All-Seeing Eye) untuk menyampaikan pesan esoterik. Black mengklaim bahwa pendiri Amerika seperti Washington dan Franklin adalah Freemason, yang menyematkan prinsip rahasia dalam Deklarasi Kemerdekaan dan desain Washington D.C. Illuminati, didirikan oleh Adam Weishaupt pada 1776, bertujuan sekularisme tapi sering disalahpahami sebagai konspirator.
Black menjelaskan bahwa masyarakat ini bukan jahat, tapi pelindung hikmah kuno melawan materialisme. Mereka memengaruhi revolusi seperti Prancis dan Amerika, serta kemajuan sains—Newton's gravitasi terinspirasi alkimia, dan Da Vinci's Mona Lisa penuh kode rahasia. Konsep kunci: Sejarah adalah "inisiasi kolektif," di mana perang dan bencana adalah ujian untuk evolusi kesadaran.
Mistisisme, Seni, dan Sains: Jembatan ke Modernitas
Black menghubungkan mistisisme dengan kemajuan manusia. Di Renaissance, seniman seperti Michelangelo menyematkan makna Kabbalah dalam Sistine Chapel. Revolusi Ilmiah bukan anti-spiritual; sebaliknya, Copernicus dan Galileo terinspirasi Hermetisisme. Black membahas Gnostisisme, yang menekankan pengetahuan pribadi (gnosis) untuk pembebasan jiwa dari dunia materi.
Di era modern, gerakan seperti Theosophy Helena Blavatsky menggabung Timur-Barat, memengaruhi New Age. Jung's unconscious collective mirip dengan kesadaran kosmik Black. Ia juga menyentuh akhir zaman: Kedatangan Antichrist atau pencerahan massal? Black spekulatif, tapi informatif dalam menjelaskan bagaimana simbol seperti salib atau ular (kundalini) adalah bahasa universal misteri.
Kesimpulan: Pandangan Baru tentang Dunia
Buku ini berakhir tiba-tiba, tanpa kesimpulan tegas, tapi meninggalkan pembaca dengan pemahaman holistik: Sejarah adalah cerita evolusi spiritual, di mana rahasia tersembunyi di balik peristiwa sehari-hari. Bagi pembaca umum, ini mengajak refleksi: Apakah dunia hanya materi, atau ada lapisan lebih dalam? Meskipun dikritik karena kurang sumber (Black mengandalkan tradisi lisan), buku ini kaya referensi dari Vedas hingga Bible, membuatnya engaging seperti novel thriller spiritual.
Diskusi